Saya pernah bercerita kepada seorang kawan, "eh, kemarin aku ikut power lunch-nya Hermawan Kertajaya lho". Kawan saya itu yang kabarnya sedang merintis online shop malah balik tanya, "ih, ngapain sih ikut begituan..". Saya diam sejenak dan menjawab, "itu penting".
Sempat heran juga waktu kawan saya bilang, ngapain ikut tapi disisi lain dia sedang merintis online-shop. Atau jangan-jangan dia gak kenal lagi sama HK *hihihi*. Intinya bukan perkara di HK-nya tapi poin-poin dan insight yang ditemui ketika bertemu dengan orang lain di luar lingkar aktivitas kita yang biasa disebut networking atau jaringan.
Tidak hanya jaringan, lebih dari itu informasi yang kita dapatkan itu akan sangat berguna. Misalnya bagaimana cara para para pemasar memetakan perilaku sebagai strategi untuk mengembangan sekaligus memasarkan produknya. Inti yang sama ketika kita, saya dan mungkin juga anda yang bekerja di dunia community and development alias pemberdayaan atau advokasi lebih luas lagi dunia NGO adalah bagaimana 'memasarkan isu' sehingga didengar kemudian ada perilaku sadar, berubah dan berdaya.
Entah kenapa kata marketing, pemasaran ini 'jauh' dari dunia NGO, padahal dari dulu kita juga sudah mengenal apa itu social marketing (yang saya pelajari ketika di Dian Desa, Yogyakarta waktu mereka mengemas isu lingkungan perkotaan). ‘Jauh’ dalam hal ini adalah perkembangan strategi ‘memasarkan’ isu yang berjalan lambat. Gak percaya?
Buktinya adalah berapa besar NGO (terutama NGO perempuan-basis saya dulu adalah di ranah ini) yang menggunakan media online sebagai bagian dari ‘memasarkan isu’? Ada beberapa tapi tidak maksimal, ya sekenanyalah kurang lebih. Biar dibilang gak ketinggalam jaman. Selebihnya dengan cara konvensional tapi kurang ter-update dengan isu ‘marketing’ itu sendiri. Padahal saat ini yang namanya online dengan lebih special social media kabarnya sudah menjadi salah satu ‘senjata handal’ dalam menegaskan sebuah brand.
Ketika saya berdiskusi mengenai hal ini dengan salah satu direktur lembaga swadaya masyarakat yang memiliki isu perempuan, dirinya mengakui bahwa update terhadap cara campaign atau meluaskan isu dengan media online sangat telat. Persoalan SDM dan anggaran katanya adalah persoalan. Menurut saya selalu ada strategi untuk menghadapi hal itu, hanya kurang berani saja dalam melakukan inovasi atau mungkin tidak tahu caranya?;)
Misalnya beberapa NGO sudah menggunakan facebook dalam melakukan kampanyenya atau sebagai bagian dari fundraising, seperti yang dilakukan oleh Peduli Perempuan, Komnas Perempuan atau Jaringan Mitra Perempuan dan PEKKA dengan kampanye melalui Dove Sisterhood. Menurut saya hal tersebut adalah awal yang bagus, tapi masih harus dilengkapi entah dengan blog, twitter atau meluaskan jaringan alias interaksi dengan netizen (sesuai beneficeries). Supaya isu yang dikampanyekan atau produk yang digunakan sebagai bagian dari fundraising benar-benar tepat sasaran dan gak 4L alias loe lagi…loe lagi :D.
Tenkyu ya cuy :D (you know who you are) yang jadi ‘bahan’ pembuka tulisan ini setelah blog ini ditelantarkan 3 minggu, hohoho.
Comments
kalau lewat facebook emang
kalau lewat facebook emang mungkin rada telat, berganti langsung via online blog atau tweeter. tapi tergantung targetnya juga mau ke mana, siapa, harus jelas. soal budget mahal atau gak, tergantung relasi aja.
kemarin pas di nikahan dilla
kemarin pas di nikahan dilla juga sekalian promo sumething sih XD*cuman blm di post di blog XD
penting, penting banget!kalo
penting, penting banget!kalo yg baru merintis usaha mgkn wajar ya masih merasa gak guna, tapi waktu itu aku ngajakin temenku, marketing dr suatu produk, ke markplus conf eh dia nolak mentah2, dia bilang gak perlu begitu2an. Trus menurut dia Twitter dan FB menambah masalah, karena yg komplen2 bakalan keliatan.. *marketing macam apa ituh* -_-
Post new comment