User login

Connect
Sign in using Facebook

Keberlanjutan Aktivisme, Aktivisme Berkelanjutan

Ini topik yang menarik di antara sekian topik diskusi paralel di BPPT, yang merupakan gelaran Komnas Perempuan akhir November lalu. Seperti yang pernah saya tulis soal online activism, dan beberapa kali memperhatikan status seorang teman yang menyatakan dan mempertanyakan bagaimana memaksimalkan information technology dengan isu, gerakan dan organisasi perempuan. Adakah hubungan antara keberlanjutan aktivisme dan dunia online itu? Pastinya!

Eksternal dan Internal adalah dua faktor yang terpetakan dana keberlanjutan aktivisme, itu yang saya tangkap. Yang internal, misalnya yang dipaparkan oleh Azriana salah satu aktivis perempuan di Aceh, yaitu tentang kebutuhan dan kerentanan aktivis perempuan. Salah satu kebutuhan yang perlu dipikirkan ke depan bagi para pekerja kemanusiaan-aktivis perempuan adalah asuransi (tentu saja ini dengan skema sesuai dengan kebutuhan spesifik ya?), membutuhkan konseling? Tentu saja, apalagi untuk para aktivis yang melakukan advokasi dan pendampingan perempuan korban kekerasan. Dan satu lagi muncul ide dari salah satu peserta yang dicatat oleh Arimbi (salah satu komisioner Komnas Perempuan) adalah mekanisme penyelesaian kerentanan kekerasan terhadap aktivis perempuan.


Ehm, yang eksternal? Nah ini yang menarik, terkait dengan dukungan infrastruktur untuk berjejaring. Jejaring dapat diterjemahkan menjadi beberapa kategori (menurut saya lho), yaitu penyebaran isu dalam konteks ini adalah isu perempuan, anti kekerasan berbasis gender bahkan mekanisme hukum bagi perempuan korbaan kekerasan. Atau biasa disebut dengan kampanye. Soal kampanye ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan offline dan online. Kalau offline sering ya dilakukan macam diskusi, workshop..bla..bla, tapi online? Ini yang kurang dilakukan oleh organisasi perempuan dan aktivis perempuan. Salah satu strateginya sudah pernah saya tulis disini. Lainnya? Masih banyak ;)


Selain kampanye soal isunya, lainnya yang mendasar adalah fundraising. Fundraising ini mendasar, ini layaknya strategi ‘marketing’ untuk kepentingan non profit dan anda harus meyakinkan pihak donor bahwa ‘produk’ anda ‘layak’ dan memberikan kemanfaatan. Karena saya menulis di blog, saya akan banyak bicara , bagaimana melakukannya dengan online. Oh, dan ini bisa anda pelajari di berbagai jejaring sosial media, twitter misalnya. Salah satunya saya contohkan adalah yang dilakukan CARE melalui duta-nya @ericharr yang melakukan donasi untuk program women empowerment and children-nya Care dengan menghitung USD 1 dihitung dari jumlah followersnya.  Hal yang sama dilakukan dengan #bukasemangatbaru yang per-tweet dengan hashtag tersebut dihitung mulai Rp 100,- sampai Rp 1000,- untuk membiayai anak putus sekolah. Eits, tapi anda perlu proses komunikasi dan jejaring yang baik sebelum sampai pada proses fundraising, mana ada orang baru pertama kenal, mau kasi duit cuma-cuma? ;)


Itu dulu deh yang bisa saya catat dari diskusi  mengenai aktivisme berkelanjutan. Teman-teman yang hadir, silahkan lho kalau menambahkan disini, mungkin ada info yang lupa saya beberkan :D

gambar diunduh dari sini

Comments

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options